KABAR KAMI


Kenapa Sih Kita Suka Musik?

Musik ada dalam nyaris semua momen hidup kita: lagi senang, sedih, marah, jatuh cinta, ulang tahun, ritual ibadah, kematian. Musik selalu ada untuk membuat kita merasa lebih baik, makanya kebanyakan orang menyukai musik.

Tapi, kenapa musik bikin kita merasa lebih baik? Ternyata, ada alasan ilmiahnya lho. Saat kita mendengar musik, otak kita mengeluarkan hormon dopamin, senyawa kimia yang bikin kita bahagia. Dopamin ini muncul juga ketika kita menikmati makanan enak.

Nah, soal musik seperti apa yang kita suka, selera orang bisa berbeda-beda. "Perdebatan tentang selera seperti berdebat ayam dan telur. Sama ribetnya dengan perdebatan antara penggemar dua klub sepakbola. Tidak akan ada ujungnya," kata Idhar Resmadi dalam buku Jurnalisme Musik dan Selingkar Wilayahnya.

Selera itu subjektif, dan subjektivitas selera itu mempengaruhi pilihan musik kita. Beda-beda tipis lah sama orang yang suka makanan pedas, akan menilai ayam geprek Warung ABC lebih enak karena lebih pedas ketimbang versi Restoran XYZ.

ceritamu soal selera musikmu?


5 Faedah Pensi

Kadang pentas seni alias pensi dianggap hanya ajang hura-hura dan menghamburkan uang. Padahal, banyak banget lho faedah pensi! Ini 5 di antaranya:

1. Ajang ekspresi seni Kapan lagi kamu bisa tunjukkan bakatmu di panggung, di depan orang banyak pula (termasuk gebetan)? Sudah begitu lama dan sepenuh hati kamu berlatih main musik, inilah saatnya menunjukkan karyamu pada dunia!

2. Melatih kemampuan berorganisasi Mulai dari merancang acara, bikin proposal, mengkoordinir panitia, meyakinkan guru, menggalang sponsor, mendapatkan musisi pengisi pensi, mengurus izin ke aparat negara … sampai mengelola dana ratusan juta, bahkan miliaran rupiah, secara transparan dan jujur. Kelar ngurus pensi ini, kamu sudah bisa jadi event organizer profesional.

3. Memberi manfaat sosial Kamu bisa juga bikin pensi jadi ajang penggalangan dana dan kepedulian untuk saudara-saudara kita yang perlu makin berdaya. Misal, penyintas kekerasan dan bencana alam, anak-anak putus sekolah, serta komunitas daur ulang sampah.

4. Meningkatkan apresiasi terhadap seni Saat pensi, kamu bisa melihat beragam jenis seni, termasuk bermacam-macam genre musik. Dari situ, kamu jadi tahu musik di luar band favoritmu, lagu selain yang sering didengarkan gengmu. Kamu jadi bisa lebih menghargai orang yang punya selera musik berbeda, juga mungkin makin tertarik bermusik dan menciptakan karya sendiri.

5. Mengerek gengsi sekolahmu Konsep pensi yang lebih orisinal dan nggak mainstream, waktu pentas lebih lama, line up dengan lebih banyak musisi, fundraising sosial lebih sukses – semua ini bisa meningkatkan gengsi sekolahmu dan bikin kamu lebih bangga.

Menurut kamu, apa saja faedah pensi sekolahmu?


Cara Musik Menghadirkan Perdamaian

Pineapple Jakarta – Beragamnya Indonesia membuat tiap agama maupun kepercayaan memiliki cara sendiri dalam bermusik, yang melambangkan spiritualitas masing-masing. Namun karena sifatnya yang universal, musik juga dapat menjadi sarana untuk melampaui sekat-sekat identitas. Mendengarkan musik dari kelompok lain memungkinkan kita memahami pandangan dunia mereka, sedangkan penciptaan musik bersama-sama dapat berujung pada terciptanya pemahaman baru.

“Musik adalah anugerah luar biasa, karena ia inklusif dan memungkinkan kita memahami satu sama lain,” ujar Glenn Fredly dalam diskusi bertajuk “Musik Lintas Iman” pada Senin, 20 Mei 2019.

Diselenggarakan oleh Kami Musik Indonesia (KAMI) dan Koalisi Seni Indonesia, diskusi ini mengulas kaitan seni musik dan religiusitas manusia Indonesia dalam dua tema diskusi berbeda. Diskusi bertajuk “Musik sebagai Ekspresi Iman” menghadirkan narasumber Dewa Budjana (musisi beragama Hindu), Barry Likumahuwa (Kristen), serta Odelia Sabrina Taslim (Buddha). Sedangkan diskusi mengenai “Musik sebagai Piranti Perdamaian” menampilkan pembicara Nyak Ina “Ubiet” Raseuki (etnomusikolog dan praktisi musik), Franki Raden (komponis dan etnomusikolog), Akhmad Sahal (akademisi dan warga Nahdlatul Ulama), serta Wahyudi Akmaliah (peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Musisi Glenn Fredly selaku penggagas KAMI bertindak sebagai moderator dalam kedua diskusi tersebut....

Sebagai bentuk ekspresi iman, musik memiliki kekuatan nyata untuk menjelaskan inti ajaran agama melalui medium yang menyentuh perasaan. Odelia Taslim menjelaskan bahwa ia menggunakan musik untuk menyampaikan ajaran Dharma dari Buddha. “Ada kalanya pendengar mungkin tidak menangkap pesan yang disampaikan dengan baik. Tapi hal ini wajar, karena aku sendiri juga masih dapat salah menangkap dan terus mempelajari ajaran Buddha,” ucapnya.

Dewa Budjana berpendapat pesan dalam musik religi tidak dapat dipandang sebagai sesuatu yang kaku. Menurutnya, musik Hindu instrumental ciptaannya dapat dinikmati sebagai world music karena dimensi spiritualitas yang memang universal dan tidak dibatasi oleh pemahaman agama. “Karena sifat universal ini, kita dapat menekankan keberagaman melalui proyek musik lintas iman. Dari sisi konten, kita juga dapat menemukan titik temu. Sebagai contoh, di Hindu ada ajaran untuk hidup selaras dengan alam. Agama lain juga punya ajaran yang menekankan pentingnya menjaga lingkungan,” tutur Budjana.

Sementara itu, Barry Likumahuwa menjelaskan tantangan dalam menemukan genre musik rohani dengan ciri khas Indonesia. Hal ini ia refleksikan dari memandang industri musik gereja di Indonesia yang telah berkembang pesat dan memiliki banyak pendengar, namun belum memiliki kekhasan. Selain itu, “Banyak generasi tua di gereja sudah terbiasa mendengar musik rohani yang lebih sederhana. Ketika gue membuat aransemen yang lebih kompleks sebagai bentuk ekspresi iman, ada yang berkomentar musiknya terlalu ‘duniawi’ dan nggak masuk,” katanya.

Optimisme akan potensi musik sebagai wahana keimanan yang menyejukkan menjadi semakin relevan pada diskusi berikutnya. Menurut Akhmad Sahal, penyebaran Islam di Indonesia oleh Wali Sanga menggunakan berbagai elemen budaya lokal, termasuk musik, sebagai jembatan antara masyarakat nusantara dengan agama yang pada masa itu baru dikenalkan. “Di mata para Wali, Islam merupakan tamu, bukan hakim. Berbagai budaya dan agama lain sudah ada di Indonesia jauh sebelum Islam datang. Langkah yang waktu itu mereka ambil adalah menempatkan Islam sebagai sufisme yang penuh keindahan, salah satunya dengan berkesenian. Dengan ini, Islam dapat dianut oleh masyarakat Indonesia tanpa proses kekerasan,” ujar salah satu penggagas Konferensi Musik Islam ini.

Senada dengan Sahal, Wahyudi menjelaskan dimensi kosmopolitan dari agama Islam di Indonesia yang mengakulturasikan praktik keagamaan dari wilayah lain. Meski praktik ini begitu penting pada masa awal penyebaran Islam di nusantara, ia menekankan bahwa kosmopolitanisme Islam tetap merupakan fitur yang ada hingga kini. Ia mengatakan, “Penyanyi Maher Zain [dari Swedia] pada awalnya menyampaikan nilai ajaran Islam dalam konteks negara sekuler tempat ia tinggal. Meski demikian, ia kini banyak didengarkan di Indonesia setelah dibawakan oleh Sabyan. Teman-teman musisi dapat berimajinasi menggunakan pendekatan kosmopolitan ini.”

Kosmopolit merupakan salah satu sifat kebudayaan Indonesia, yang merupakan hasil akulturasi berbagai suku-bangsa. Namun Ubiet selaku etnomusikolog berpendapat hingga saat ini, belum ada musik yang dapat disebut “musik Indonesia”. “Kita perlu membangun institusi yang kuat serta berusaha untuk membuat musik baru. Selain menyelenggarakan konferensi dan residensi, kita juga bisa ajak musisi untuk tinggal di komunitas dan menciptakan dialog yang organik. Dari sini, kita bahkan bisa menemukan cara baru yang unik untuk membuat musik,” tuturnya berpendapat.

Salah satu upaya menemukan cara baru untuk membuat musik ini adalah kiprah Franki Raden mencetuskan Indonesian Music Orchestra, yang menggabungkan berbagai alat musik tradisional dari seluruh nusantara. “Saat ini, hanya bahasa yang mampu membuat semua masyarakat merasa sebagai orang Indonesia. Sementara itu, proses pencarian identitas musik di Indonesia belum selesai. Orkestra ini bisa menjadi platform awal untuk berkreasi dan menemukan identitas tersebut,” ucapnya. (Eduard Lazarus)


Menumbuhkan Nalar Kritis Lewat Musik

Jakarta – Pendidikan adalah salah satu unsur penting dalam ekosistem musik. Sebab, sistem pendidikan yang baik akan berkontribusi terhadap lancarnya ekosistem musik. Sebaliknya, musik dapat digunakan sebagai sarana jitu dalam edukasi. Maka, tak heran jika topik tersebut menjadi bahasan hangat dalam Konferensi Musik Indonesia 2018 yang berlangsung di Ambon. Salah satu rencana aksi hasil konferensi tersebut ialah mengarusutamakan musik dalam pendidikan nasional dan diplomasi budaya Indonesia. Tujuannya, untuk memperkaya bentuk-bentuk pemanfaatan musik sebagai ekspresi budaya, aset ekonomi, media perubahan sosial, dan pembentuk karakter bangsa.

Sementara itu, pada Januari 2019, pengguna media sosial di Indonesia tercatat tumbuh 13% menjadi 150 juta orang dalam waktu setahun. Artinya, kini 56% atau lebih dari separuh populasi nusantara aktif memakai media sosial. Sayangnya, meluasnya penetrasi media sosial dan pemakaian internet belum diiringi kemampuan berpikir kritis—termasuk di kalangan remaja, yang setidaknya 23 juta orang di antaranya getol bermedia sosial....

Untuk mendorong pendidikan yang menumbuhkan nalar kritis dan menggali kaitannya dengan musik, Kami Musik Indonesia (KAMI) bekerja sama dengan Koalisi Seni Indonesia menggelar diskusi publik bertema musik dan pendidikan. Acara bincang-bincang Ngobrol di Musik Bagus Day ini berlangsung pada Senin, 1 April 2019, di kawasan Cilandak, Jakarta. Pembicaranya adalah Najelaa Shihab, Erwin Gutawa, dan Andien Aisyah. Adapun anggota Koalisi Seni, Glenn Fredly, menjadi moderatornya.

“Musik menumbuhkan orang-orang yang memiliki apresiasi tinggi dan mampu berpikir kritis. Proses kreatif, proses memahami orang, nalar kritis, semuanya bisa dikembangkan oleh musik,” ujar Najelaa Shihab.

Sayangnya, musik masih dianggap sebagai mata pelajaran yang santai, padahal potensinya besar. Jumlah guru musik pun diperkirakan hanya sekitar 4 juta orang di Indonesia. Musik pun kerap dipertentangkan dengan mata pelajaran lain, seakan-akan ia mengganggu kegiatan akademik siswa.

Padahal, menurut pendiri Sekolah Cikal itu, anak-anak memiliki hingga 22 kali lipat kesempatan lebih baik untuk belajar sains kalau mereka juga belajar musik. Buktinya, para peneliti sains pemenang Nobel adalah orang-orang yang sempat mendapatkan pendidikan musik yang baik.

Erwin Gutawa sependapat dengan Najelaa. Ia mengatakan musik mendidik manusia bersikap kritis dan analitis, serta terlatih mendengarkan untuk memahami. Musik juga dapat mengajarkan nilai-nilai kehidupan seperti keseimbangan, berproses bersama, dan kolektivisme.

“Indonesia seharusnya bisa lebih menghargai seni dan budayanya, bagian dari jati diri bangsa yang memliki daya dobrak kuat. Tapi musik, seperti juga seni lainnya, masih menjadi sebatas kegiatan seremonial. Seharusnya musik sejajar dengan ilmu pengetahuan yang lainnya. Musik bisa membuat orang terampil, mahir secara motorik, juga imbang otak kanan dan kirinya,” tuturnya.

Andien menambahkan, musik juga membuat manusia dapat menghargai keberagaman. Musik dinilainya sebagai medium yang bagus untuk memahami perbedaan cara berpikir masyarakat. Ia percaya musik bukanlah semata urusan membuat lagu yang laku di pasar, tetapi perihal menyampaikan pesan kepada sesama manusia. “Ada greater cause yang harus aku sampaikan sebagai misiku di dunia. Aku mengemas musik untuk menyampaikan nilai-nilai,” tuturnya. (Bunga Manggiasih)


Menyelaraskan Suara Sumbang di Hari Musik Nasional

Jakarta – Untuk memperingati Hari Musik Nasional yang jatuh tiap 9 Maret, Galeri Foto Jurnalistik Antara bekerja sama dengan Koalisi Nasional Tolak RUU Permusikan, Masyarakat Musik Merdeka, dan Koalisi Seni Indonesia menghelat temu wicara dan pertunjukan musik bertajuk “DEL AJE RUU Permusikan!”. Dipandu oleh moderator Dani Satrio, mantan editor-in-chief majalah Hai, temu wicara tersebut menghadirkan lima narasumber: musisi Kartika Jahja, penata musik Viky Sianipar, manajer grup musik Seringai Wendi Putranto, ahli hukum tata negara Bivitri Susanti, serta peneliti Koalisi Seni Indonesia Hafez Gumay.

Semrawut kasus RUU Permusikan tengah memasuki babak baru. Belum lama ini, badan Keahlian DPR merilis draf Rancangan Undang-undang Permusikan versi kedua tertanggal 20 Februari 2019. Draf tersebut, meski menghilangkan sejumlah pasal kontroversial seperti pasal 5 dan 50 yang mengancam kebebasan ekspresi dalam bermusik, justru menimbulkan sejumlah masalah baru, seperti pasal 54-57 yang mengatur pembentukan Dewan Musik. Di sisi lain, Anang Hermansyah sebagai pencetus RUU Permusikan menyatakan telah menarik RUU tersebut dari Badan Legislatif DPR....

Menanggapi perkembangan ini, Hafez Gumay dari Koalisi Seni Indonesia menjelaskan bahwa solusi sejumlah problem musik di Indonesia sebenarnya diatur oleh beberapa Undang-Undang yang berbeda. “Sebagai contoh, kebutuhan akan basis data karya musik sebenarnya sudah diakomodasi oleh UU Serah Simpan Karya Cetak Karya Rekam. Selain itu, ada juga UU Pemajuan Kebudayaan dan UU Hak Cipta,” ujarnya.

Senada dengan Hafez, Bivitri Susanti menyatakan ketimbang membuat peraturan baru, pembuat kebijakan perlu mengkaji kembali apakah peraturan yang ada sudah ditegakkan dengan baik. “Karenanya, musisi juga butuh untuk memastikan di ranah apa saja mereka butuh perlindungan hukum,” ucap Bivitri menambahkan.

Para pegiat dan penggiat musik pun sepakat untuk menolak rancangan draf kedua tersebut. “Menurut saya, sisi kreatifnya tidak usah diatur. Yang perlu diatur itu tata kelola industrinya,” ujar Viky Sianipar.

Selain itu, Wendi Putranto menyatakan Koalisi Nasional akan mengawal RUU tersebut hingga resmi dibatalkan. Ia pun menjelaskan inisiatif bersama pegiat musik membuat Musyawarah Musik Nasional untuk mendengarkan aspirasi sebanyak-banyaknya pemangku kepentingan musik di seluruh Indonesia. Ia mengatakan, “Saat ini, RUU ini sangat Jakarta-sentris dan tidak mendengar suara dari daerah lain. Padahal kalau RUU ini lolos, yang akan kena dampaknya itu 250 juta warga Indonesia.”

Sebagai penutup, Kartika Jahja menekankan gerakan mengawal RUU Permusikan ini adalah tindakan politik yang benar. “Saya kurang suka dengan kesan bahwa gerakan menolak ini prematur. Sebaliknya, kita memiliki hak penuh untuk merespons draf RUU Permusikan ini karena DPR adalah perwakilan dari konstituennya, yakni warga negara, kita sendiri,” ujarnya.

Selain temu wicara, acara ini juga menampilkan pertunjukan musik dari Adrian Adioetomo, Norifumi Mikail, Nonaria, Ivan Nestorman, Zigi Zaga, Gugun Blues Shelter, Jason Ranti, Blackteeth, The Brandals, hingga Roadblock Dub Collective. (Eduard Lazarus)

© 2018 KAMI is Proudly Powered by Dyandra Promosindo